Cerita Ngentot ABG Meki Basah

 0
Cerita Ngentot ABG Meki Basahby lunglungleeon.Cerita Ngentot ABG Meki BasahCerita Ngentot ABG Meki Basah, Cerita ngentot Terbaru, Cerita Ngentot ABG Meki Basah, Kumpulan Cerita ngentot Dewasa terbaru, cerita sex ngentot, cerita ngentot abg pamer memek, cerita ngentot paling hot, cerita dewasa ngentot abg bispak toge di duniapanas.com. Suatu hari, saat aku sedang online YM, ada seorang laki-laki yang mengajak ku berkenalan. Hari berganti hari, […]


Cerita Ngentot ABG Meki Basah, Cerita ngentot Terbaru, Cerita Ngentot ABG Meki Basah, Kumpulan Cerita ngentot Dewasa terbaru, cerita sex ngentot, cerita ngentot abg pamer memek, cerita ngentot paling hot, cerita dewasa ngentot abg bispak toge di duniapanas.com. Suatu hari, saat aku sedang online YM, ada seorang laki-laki yang mengajak ku berkenalan. Hari berganti hari, kami akhirnya menjadi teman dekat, saking dekatnya kami sudah seperti pacar saja. Karna kami sudah kenal lumayan lama, akhirnya kamipun merencakan kopdae hanya berdua saja. Laki-laki itu, sebut saja Tomi, mengajakku refreshing berendam di kolam pemandian air hangat disalah satu hotel yang berada di Garut. Ya, aku setujui saja. Toh aku juga memang butuh bersenang-senang.

Dihari sabtu yang cerah, aku akhirnya bertemu Tomi. Fisiknya memang mirip seperti diftonya. Tinggi sekitar 160cm, bb mungkin 45-50kg, kulitnya putih bersih, dan berwajah tampan.

Tomi ternyata laki-laki yang memang menyenangkan, dia banyak bercerita padaku kalau dia mempunya banyak pacar yang menjadi TKW, dia bilang sih itu dia lakukan sengaja, biar bisa bebas selingkuh dengan siapapun di real karna gakan ketauan oleh pacar-pacarnya yang menjadi TKW, dan bonusnya, Tomi bilang, dia selalu diberi duit oleh pacar-pacarnya itu. Aku sih cuex aja dengan prilaku dia yang seperti itu, ku fikir itu adalah gaya hidup dia.Akhirnya kami berdua berangkatlah menuju Garut, tepatnya mencari hotel yang menyediakan kolam pemandian sendiri dan juga kamar yang mempunyai bathtub nya.
Didalam mobil, Tomi cerita banyk hal. Hmmm, dia memang laki-laki yang cerewet, tapi sangat menyenangkan. Aku yang termasuk pendiam, hanya lebih suka mendengarkannya.
Kurang lebih, 1 Jam dari tempat kami berangkat akhirnya kami menemukan penginapan yang sesuai harapan kami, ada kolam renangnya juga ada taman-tamannya. Kami menuju reseptionis untuk menyewa kamar, petugas nya mengantar kami menuju kamar yang akan kami tempati. Ternyata kamarnya berada dilantai 2, kamar kamipun mempunyai balkon yang pemandangannya langsung mengarah pada kolam renang dan taman dibawah.

Menyenangkan juga, fikirku.

Aku dan Tomi masuk ke dalam kamar. Kulihat sekeliling kamar. Setelah masuk kamar, aku langsung dihadapkan oleh pintu kamar mandi yang saling berhadapan dengan pintu masuk kamar. Mungkin jarak nya ada sekitar 6-7meteran. Lumayan luas kalau menurutku. Disebelah kiri pintu kamar mandi terdapat kaca yang lumayan panjang terpajang didinding yang menghadap langsung pada sebuah tempat tidur besar. Pintu kamar mandi itu ada dipojok sbelah kiri, dan kaca itu menempel pada dinding sebelah kirinya.

Tetapi, bila aku masuk kedalam kamar mandi, lalu kita melihat ke arah kaca yang memang brada disebelah pintu kamar mandi, maka kaca itu akan brada di sebelah kanan pintu kamar mandi, hampir berhadapan dengan pintu kamar mandi. Jika aku dari dalam kamar mandi melihat pada kaca itu, maka aku bisa melihat tempat tidur dari kaca itu.

Didalam kamar mandi, dipojok kiri, ada toilet duduk, dan dipojok sebelah kanan, ada bathtub yang lumayan besar. Bathtub ini bersebelahan dengan tempat tidur, hanya saja dipisah oleh sebuah dinding.

Aku keluar dari kamar mandi, dan melihat Tomi yang sedang menonton televisi yang terletak disebelah tempat tidur.
Aku ikut duduk disebelahnya. Tomi melirik.

“Suka kamarnya?” Tanya nya.
“Suka.” Jawabku. “Apa kita menginap?” Lanjutku balik bertanya.
“Ya, kalau kamu mau, kita bisa menginap.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Oke.” Kataku singkat.

Entah dari mana mulainya, aku dan Tomi sudah saling berciuman, Tomi ternyata type pencium yang lembut, sedangkan aku agak kasar, tapi aku ikuti permainan dia yang lembut. Lidah kami saling bergulat didalam mulut kami. Kami bertukar air liur. Tomi melanjutkan ciumannya pada leherku, ooghhhh salah 1 kelemahanku itu memang terdapat dileherku. Aku mendesah, geli bercampur nikmat.

“Ohhhh Tomm….” Desahku.

Tomi makin menjadi, dia melepaskan pakaianku dengan terburu-buru, sampai aku bugil. Lalu dia ciumi payudaraku, dia remas payudara sebelah kanan, dan menjilat payudara sebelah kiri. Rasanya, aku dibuat melayang olehnya, lidah dan bibirnya sangat lihai memainkan payudaraku. Bibirnya bergantian menyusu di payudaraku, kanan, kiri, kanan, kiri. Yang kubisa lakukan cuma mendesah dan sedikit teriak saat giginya menggit kecil puting payudaraku. Oghh rasanya sudah sangat tegang puting payudaraku.

Bosan dengan menyusu, Tomi akhirnya turun menjilati perutku, tak lama kemudian, dia melebarkan pahaku dengan tangannya, dijilatnya memek ku perlahan, uhhhh.. geli rasanya. Jilatan lidahnya dimemekku makin dia percepat, membuat ku makin menggelinjang.

“ughhh…. Tom, enaaakkk, iya Tommm… Itilnyaaaaa yang itu Toomm.. Jilatnya lebih kesitu ya Toooomm.. Oohhh terusss Tooommm…” Desahku makin tak terkontrol.

Tomi makin semangat menjilat memekku.
Karna sudah ga kuat kegelian, aku tarik kepalanya sampai sejajar dengan kepalaku, kucium bibirnya dengan buas, Tomi mungkin merasa sesak karna ciumanku, tapi aku tak peduli, kubalikkan tubuhnya, agar dia berada dibawahku, sambil terus kucium. Aku pun ikuti permainannya tadi, kucium lehernya, kucium kupingnya, ku hembuskan nafas pelan pada lubang telinganya. Tomi menjerit tertahan merasakan rangsangan yang kubuat.

Aku buka pakainnya sampai telanjang sepertiku. Ku teruskan ciuman dan jilatanku didadanya. Kujilat putingnya yang kecil, Tomi mendesah, ternyata dia sangat suka dengan jilatan didada. Aku makin semangat mendengar desahan Tomi. Ciumanku turun menuju perutnya, ku jilat udel nya, dan aku terus menuju kontolnya.
Kontol Tomi ternyata setandar Indonesia, ga besar ga panjang. Aku lalu jilati lubang pipis kontol Tomi. Dia medesah.

Kulihat wajahnya sambil tetap menjilati kepala kontol Tomi. Ternyata tomi memejamkan matanya, kepalanya sedikit menengadah, bibirnya terbuka sedikit. Ohh tampan dan menggairahkan sekali wajahnya.
Aku makin bersemangat menjilat kontolnya, ku masukan kontolnya kemulutku, kukenyot kontolnya, Tomi menjerit kecil tapi tetap terpejam. Ku jilat kontol Tomi saat berada didalam mulutku.

“Ohhh beee, terusssssssss…” Katanya.

Kukocok kontolnya memakai mulutku, terus ku keluar masukan didalam mulutku.
Tomi mendesah-desah kenikmatan.

“Beee… udah bee… aku udah ga tahaaann… Beee, langsung beee, masukin memek aja beeee..” Katanya memohon.

Berhubung memekku juga sudah berdenyut-denyut gatal pertanda ingin dimasukin kontol, akhirnya aku mengangkangi Tomi, ku arahkan kontolnya tepat dilubang memekku.
Dan bleesssss,,, ooohhhh… masuk tanpa halangan…

“Beeee, kocoookkkk…” Kata Tomi memerintah.

Akupun mulai menaik turunkan pantatku, kukocok kontol Tomi didalam memekku. Uughhh rasanya nikmaatt, memekku yang gatal karna dijilatnya tadi akhirnya serasa digaruk juga.

“Aaahhhh Toooomm… Nikmat Toomm kontollmuuu Tooommm.” Desahku sambil terus mempercepat gerakan naik turun.
“Ya beee ja..ngaaaann berhentii yaaaa.” Kata Tomi.

Saat sedang asik naik turun dikontol Tomi, Tomi tiba-tiba menyuruhku berhenti. Dia menyuruhku mengambil HP nya yang berada dimeja dekat dengan tubuhku yang sedang duduk di atas kontolnya.
Ku ambil HP itu, lalu ku berikan padanya,

“Ayo teruskan.” Katanya.

Aku heran, buat apa dia memegang HP nya, apa mau direkam? fikirku. Ternyata aku salah.
Saat ku mulai menggoyang kontolnya lagi, kali ini aku maju dan mundurkan pinggulku, sekali-kali aku putar pinggulku sehingga kontolnya serasa masuk lebih dalam didalam memekku.

“Halo sayang.” Ternyata, Tomi menelepon pacarnya.

“Sayang, maaf tlp mu ga aku angkat-angkat, aku lg sange nih, jd td aku lagi ngocok tp ga ngecrot-bgecrot, kamu temenin aku ngocok ya.” Kata Tomi yang ditujukan pada pacarnya yang brada disebrang telepon. Ternyata sedari tadi, pacar Tomi telepon, tapi dia silent, dia sadar ada tlp saat dia melihat HPnya menyala kelap kelip.

“Hihihi…” Aku ketawa kecil.

Tomi menempelkan telunjuk tangannya pada bibirnya. Artinya dia menyuruhku jangan bersuara tetapi terus bergoyang.
Aku akhirnya senyum-senyum saja sambil terus memaju mundurkan pinggulku.

Ughhhh ternyata enak juga ya berfantasy dengan cwo yang lagi pura-pura ngeloco dan Phone Sex dengan cwe nya. Dikira si cwe, pasti lagi menikmati desahannya, padahal cwo nya emang lagi ngentod bareng aku. Hhahahha..

Tomi menloudspeaker suara hape nya. Terdengar suara seorang wanita mendesah-desah tak karuan.
Aku jadi kurang konsentrasi, rasanya ingin tertawa terbahak-bahak saja.

“Ya sayaaanggg deaah teruss donkk, enak memekmu… sayaangg oohhh yaa memekmu hangat… saayangg, goyang terus sayaanggg….” Kata Tomi berbicara ditlp dengan pacarnya, padahal ditujukan untukku.
Aku yang sudah tak bisa konsentrasi langsung terdiam dan menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Menahan tertawa.

Dengan bahas tubuh, Tomi menyuruhku untuk terus bergoyang. Terpaksa ku lanjutkan lagi goyanganku. Kali ini aku naik turunkan lagi pantatku agar kontol Tomi keluar masuk dimemekku, ku hentakkan keras-keras dan cepat.
Oohhhh rasanya kembali nikmattt…

“Oohhh enaakk sayaangg,, aaahhhh yaa saayaangg enaakk… terusss… terusss.. mu ngecrroootttt… oohhhh goyaangg.. kuat yang kuaaaaaaaaaatttt…” Kata Tomi sambil sedikit teriak-teriak. Masih tetap mengarahkan suaranya pada telepon, dan terdengar suara desahan wanita disebrang telepon makin keras dan bersemangat.

Dengan menahan teriakan dan desahan, akhirnya aku klimax juga gara-gara mendengar desahan Tomi berbarengan dengan desahan wanita ditelepon itu. Tapo aku terus bergoyang agar Tomi segera mencapai klimaxnya.

“Oooohhhh… Haangaaattt saaayaaangggg…. muuachh.. muaachh.. cupp muaacchh.. Akuu.. nge.. ngeeeecrrooottttt…” Teriak Tomi sedikit tertahan, takut terdengar pengunjung kamar sebelah.

Aku lalu terdiam, masih duduk diatas kontol Tomi. Senyum simpul.

“Sayang, udah dulu ya, aku mau mandi. Muaachh.. muuaaachh..” Kata Tomi pada pacarnya di telepon. Lalu dia menutup teleponnya.

“Ahhahahahahahaaahaha…” Meledaklah tawaku
akhirnya.

Tomi segera terduduk dan mencium mesra bibirku, menghentikan tawaku.
Kami berciuman sebentar.

“Be, maaf ya tadi. Kalo ga gitu, tar transferannya untuk aku berhenti.” Kata Tomi sambil memandangku.
Aku hanya balas dengan senyuman.

“Mandi yuk?” Katanya.
“Yuk.” Jawabku.

Kami berdua akhirnya menuju kamar mandi.

Tomi masuk bathtub duluan. Bathtub itu spertinya bisa menampung 4 orang sekaligus. Tomi duduk dipojok sebelah kanan dekat tembok. Aku duduk dipojok sbelah kiri dekat pintu masuk kamar mandi.

Tomi menyuruhku menghampirinya, lalu aku duduk diatas lahunan dia. Tomi mencium bibirku dengan lembut. Kubalas ciumannya dengan lembut juga. Spertinya Tomi bukan mengajakku untuk meneruskan rounde ke 2, tapi dia hanya ingin bermesraan denganku. Saat kami sudah berhenti ciuman, tiba-tiba pandangan Tomi mengarah ke belakang ku. Dia sedikit terbengong. Lalu menyuruhku menyingkir dari lahunannya.

“Be, udahan yuk mandinya.” Katanya.
“Kan belum pake sabun.” Jawabku.
“Udah, ayo jangan lama-lama.” Kata Tomi sambil cepat keluar kamar mandi.
Ih tu anak kenapa? Tiba-tiba aneh. Gerutuku.

Aku keluar kamar mandi. Kulihat Tomi sedang tiduran dengan berselimut tebal.

Dengan selimbut tebal yang disediakan pihak penginapan.
Kudekati dia, tidur disampingnya, dan masuk kedalam selimbutnya.
Dia menggigil ternyata.

“Kamu kenapa? Sakit?” Tanyaku.
“Engga.” Jawabnya sambil memelukku erat.
“Terus kenapa?” Tanya ku lagi.
Dia tidak menjawab, tapi langsung menciumku, menindihku, dan bergumul di atas tubuhku. Tapi tiba-tiba di bangkit dan terduduk sambil melihat ke kaca dekat pintu kamar mandi. Aku coba ikuti pandangannya. Yang kulihat disana hanya ada bayangan ku, bayangan Tomi, dan sedikit bayangan dari dalam kamar mandi. Ku kernyitkan kening dan menatap Tomi. Tanda penasaran.
Tomi dengan tergesa-gesa memakai pakaiannya. Dia juga menyuruhku cepat-cepat memakai pakaianku.

“Kenapa?” Tanyaku. “Bukannya kita mau menginap?” Lanjutku.
“Sudah jangan banyak bertanya. Lakukan saja perintahku.” Jawabnya sambil terus beres-beres.

Akhirnya aku dandia sudah kembali berpakaian lengkap. Aku masih terheran-heran dibuatnya.

“Udah beres? Yuk.” Tomi berkata, mengajakku keluar kamar.
“Tom, ga ada yang ketinggalan kan?” tanyaku.
Tomi menggelengkan kepala.

Kami akhirnya keluar kamar. Melewati kamar sebelah yang pintunya sedang terbuka. Kulihat ada laki-laki yang sedang tiduran diranjang sambil menonton tv. Dia menatapku dan tersenyum menggoda.
Sebelum turun tangga, kulihat ada saklar ditembok kamar laki-laki itu. Dengan tampang tak berdosa aku memencetnya dengan tujuan ingin tahu apa fungsinya. Ceklek. Tiba-tiba terdengar teriakan didalam kamar tersebut.

“Wooyyyy listriknya jangan dimatiiinnn.”

Aku buru-buru turun sambil menahan tawa. Dibawah, Tomi sudah menungguku masih dengan wajah yang tegang.

“Kenapa sih?” Tanyaku makin penasaran.
“Nanti aja ngobrolnya.” Jawabnya.

Kami berjalan ke arah reseptionis dan mengobrol sebentar.
Lalu kami langsung menuju parkiran.

Didalam mobil yang melaju pulang, aku kembali menanyakan perihal keanehan kelakuan Tomi sewaktu tadi di kamar hotel. Tomi pun menjawabnya. Jawabannya membuatku kaget.

“Tadi, sewaktu kita sedang dibathtub, tiba-tiba aku melihat ada sesosok wanita dibelakangmu, dia berpakaian serba putih, dan matanya melotok ke arah kita. Matanya merah seperti digenangi darah. Lalu setelah kita tiduran dikasur, ku kira tu wanita bakal menghilang, ternyata dia masih ada saat tak sengaja aku melihat ke arah cermin, dan cermin itu memantulkan sosok cwe itu yang sedang melotot ke arah kita. Ku kira dia tak suka kita berada disana. Makanya aku mengajakmu cepat pulang.” Kata Tomi panjang lebar.

” Hmmm, pantas saja tadi diluar dijendela, ada yang jalan ke arah pojokan, dan ga kembali lagi, padahal kamar kita kan paling ujung.” Kataku. Memang, sempat aku melihat ada yang berjalan dibalkon depan kamar kami ke arah ujung tanpa balik lagi. Tapi aku tak memerdulikannya. Baru setelah Tomi cerita, aku teringat kalau kamar kami kan paling ujung. Jadi tu orang kalau ga balik lagi, berarti menghilang.”

“Iya makanya itu. Kukira, pindah kamarpun gakan ada ngaruhnya. Mungkin mreka memang ga mau ada kita disana.” Tomi berkata sambil bergidik.

Aku terdiam. Tomi pun ikut terdiam. Disepanjang jalan pulang, kami membisu.

@@@

Terimakasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca ceritaku.

Salam lendir.

Author: 

Related Posts

Leave a Reply